Rabu, 21 November 2012

1.     Pujian, KJ. 19 : 1 – 2  “Tuhanku Yesus” 

2.     Berdoa

3.     Renungan:

§     Berbahagialah orang yang mempunyai Allah Yakub sebagai penolong, yang harapannya pada TUHAN. (Mazmur 146:5)

 

§     Itulah sebabnya kita berjerih payah dan berjuang, karena kita menaruh pengharapan kita kepada Allah yang hidup, Juruselamat semua manusia.

  (1 Timotius 4:10)

 

Allah Yang Memanggil; Memberi Pengharapan

 

Saya sungguh terharu mendengar kesaksian seorang hamba Tuhan yang meskipun memiliki latar belakang pendidikan yang cukup baik, cerdas dan keluarganya cukup terpandang, namun ia merasa terpanggil untuk melayani penggembalaan di jemaat pedesaan. Pelayanan yang ia lakukan sudah lebih dari dua puluh tahun. Semakin lama, ia pun semakin kerasan dan semakin diteguhkan pelayanannya. Ia menceritakan bagaimana disana dahulunya begitu terpencil, jauh dari keramaian, ekonomi jemaat juga masih sulit dan pelayanan yang dijalaninya terkadang harus menempuh perjalanan berpuluh-puluh kilometer jauhnya, dengan menggunakan transportasi seadanya. Bahkan jika ada banjir, harus berjalan kaki melewati hutan yang sering berpapasan dengan binatang buas, seperti gajah, harimau, dan babi hutan, untuk menuju perkampungan penduduk yang jumlahnya hanya segelintir orang. Namun yang menarik, ia merasa Tuhan telah memanggilnya untuk melayani di sana dan semuanya ia jalani dengan penuh semangat dan penuh sukacita.

      Ketika ditanya mengapa ia mau melayani di desa yang terpencil sedemikian itu? Bukannya dengan latar belakang pendidikan dan ekonomi keluarga yang cukup mampu, ia bisa melayani di kota besar, bisa menjangkau dan memberkati hamba-hamba Tuhan di desa, selain lebih efektif, bukankah alat transportasi dan komunikasi lebih memadai dengan gaji dan segala fasilitas yang bisa diberikan jemaat kota? Namun yang mengherankan, jawabannya sangat gampang: “Tuhan ada di sini, dan orang-orang desa ini rindu mendapat jamahan-Nya. Jika mereka Tuhan ubahkan, maka mereka pasti sanggup membangun desanya sendiri!”

      Visi yang datang dari panggilan Tuhan rupanya membuatnya berpengharapan dan terus bergairah dan buah-buah pelayanannya pun tampak semakin indah dan nyata. Banyak dari jemaat yang ia layani di desa-desa itu menjadi orang berhasil diperkotaan dan turut membantu perkembangan jemaat yang ia rintis di sana. Benarlah apa yang dikatakan firman Tuhan hari ini: “… kita berjerih payah dan berjuang, karena kita menaruh pengharapan kita kepada Allah yang hidup, Juruselamat semua manusia. (1 Timotius 4:10).

 

4.    Pujian, “Melayani, Melayani, Lebih Sungguh”

5.    Pokok Doa : Ya Tuhan, berikanlah kami hati yang senantiasa rela untuk melayani-Mu.